Efisien dan efektif

Bagi kebanyakan orang, suatu cara dalam melakukan kegiatan yang di nilai bagus adalah cara efektif dan efisien. Semua solusi dari sebuah permasalahan tak perlu diragukan lagi arahnya adalah tepat guna dan tidak membuang-buang waktu. Hampir semua dan di setiap kata kerja yang biasa kita lakukan bisa kita sisipkan kata “efektif” dan “efisien”. Contoh bekerja efektif dan efisien ataupun belajar efektif dan efisien.

Di atas sengaja saya menuliskan kata hampir sebab bagaimana dengan kata marah? Bisakah marah kita masukan dalam kata yang bisa kita beri embel-embel efektif dan efisien? Entah lazim atau tidak, setidaknya kita bisa mengidentifikasi ada dua type orang ketika marah. Orang yang marah secara efektif dan efisien dan kebalikannya, marah tidak efektif dan efisien.

Orang marah sangat berkaitan dengan watak dan sifat psikologis dari orang tersebut. Identifikasi dari golongan yang marahnya tidak efektif dan efisien cenderung orang-orang yang masuk dalaam katagori sedikit lebay, agak lebay, lebay, sangat lebay dan lebay dalam kelebaian. Tingkat kelebaian sangat berpengaruh disini.

Bisa kita ambil contoh orang-orang yang masuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang menjadi Panitia Ospek dan MOS. Entah karena apa, orang-orang dalam golongan ini tiba-tiba menjadi sangat sok, sengak, nyebelin dan mbebehi tentunya. Golongan ini di dalam Ospek menjadi sangat sering menyuruh para Maba meneriakan “hidup mahasiswa”. Namun, anehnya mereka menyuruh tanpa subtansi pada pertanyaan untuk apa, dan tampaknya mereka lebih mementingkan pada aspek historisnya saja. Mentang-mentang dulu sewaktu menjadi Maba mereka disuruh-suruh seperti itu jadi mereka mengulang sejarah yang sama.

Lebih menyedihkan lagi Panitia MOS, yang tiba-tiba meneriakan “Ayo de, jalanya yang cepet! Jangan leled!” ketika para adik kelas lagi berbaris rapi. Ataupun ketika adik-adiknya berisik sendiri, mereka bilang dengan bahasa yang lumayan keren dan agak filosofis tapi sayangnya cuma niru dari kakak angkatanya “Jangan bikin forum di dalam forum ya de” sambil mendelik dan senyum seringai yang membuat wajahnya semakin keji. Orang-orang ini lah yang marah-marahnya mengeluarkan begitu banyak tenaga dengan teriak sekeras-kerasnya di depan muka adik-adiknya tetapi tetap saja hanya masuk telinga kiri dan telinga kanan.

Beda dengan orang-orang yang marah-marahnya efektif dan efisien. Golongan ini adalah orang-orang introvert kritis yang pemberani. Mereka seperti aliran sungai yang tenang di permukaan tapi deras di dasarnya. Orang-orang yang berpikir marah hanya perlu jika ada aksi dari lingkungan dan akhirnya memberikan reaksi seefektif dan seefisien mungkin. Mereka biasanya punya kecerdasan verbal tinggi. Sebab orang-orang ini marahnya mengeluarkan kata-kata nyelekit yang efeknya begitu dalam, menyayat hati mencabik-cabik sanubari. Intinya golongan ini lebih mementingkan kemampuan skill dalam merangkai kata daripada memanfaatkan kekuatan ampiltudo dari getaran yang dihasilkan pita suara. Bagi mereka tak perlu menggelegar tatapi menyentuh sisi sensitive orang yang dimarahinya itu lebih penting.

Well, tak perlulah kita setelah membaca note ini kemudian mereka-reka masuk golongan yang mana, tetapi yang perlu disadari jauhilah marah. Tidak bagus marah itu, menurut penelitian kesehatan, marah bisa meningkatkan resiko penyakit jantung dan kanker. Di islam pun Rasulullah pernah mewasiatkan pada sahabatnya agar menahan amarah. Allah swt pun sangat menyukai orang yang bisa menahan amarah. So, pilih yang mana, menjadi pemarah atau pemaaf? Wallahu’alam

Bagi kebanyakan orang, suatu cara dalam melakukan kegiatan yang di nilai bagus adalah cara efektif dan efisien. Semua solusi dari sebuah permasalahan tak perlu diragukan lagi arahnya adalah tepat guna dan tidak membuang-buang waktu. Hampir semua dan di setiap kata kerja yang biasa kita lakukan bisa kita sisipkan kata “efektif” dan “efisien”. Contoh bekerja efektif dan efisien ataupun belajar efektif dan efisien.

Di atas sengaja saya menuliskan kata hampir sebab bagaimana dengan kata marah? Bisakah marah kita masukan dalam kata yang bisa kita beri embel-embel efektif dan efisien? Entah lazim atau tidak, setidaknya kita bisa mengidentifikasi ada dua type orang ketika marah. Orang yang marah secara efektif dan efisien dan kebalikannya, marah tidak efektif dan efisien.

Orang marah sangat berkaitan dengan watak dan sifat psikologis dari orang tersebut. Identifikasi dari golongan yang marahnya tidak efektif dan efisien cenderung orang-orang yang masuk dalaam katagori sedikit lebay, agak lebay, lebay, sangat lebay dan lebay dalam kelebaian. Tingkat kelebaian sangat berpengaruh disini.

Bisa kita ambil contoh orang-orang yang masuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang menjadi Panitia Ospek dan MOS. Entah karena apa, orang-orang dalam golongan ini tiba-tiba menjadi sangat sok, sengak, nyebelin dan mbebehi tentunya. Golongan ini di dalam Ospek menjadi sangat sering menyuruh para Maba meneriakan “hidup mahasiswa”. Namun, anehnya mereka menyuruh tanpa subtansi pada pertanyaan untuk apa, dan tampaknya mereka lebih mementingkan pada aspek historisnya saja. Mentang-mentang dulu sewaktu menjadi Maba mereka disuruh-suruh seperti itu jadi mereka mengulang sejarah yang sama.

Lebih menyedihkan lagi Panitia MOS, yang tiba-tiba meneriakan “Ayo de, jalanya yang cepet! Jangan leled!” ketika para adik kelas lagi berbaris rapi. Ataupun ketika adik-adiknya berisik sendiri, mereka bilang dengan bahasa yang lumayan keren dan agak filosofis tapi sayangnya cuma niru dari kakak angkatanya “Jangan bikin forum di dalam forum ya de” sambil mendelik dan senyum seringai yang membuat wajahnya semakin keji. Orang-orang ini lah yang marah-marahnya mengeluarkan begitu banyak tenaga dengan teriak sekeras-kerasnya di depan muka adik-adiknya tetapi tetap saja hanya masuk telinga kiri dan telinga kanan.

Beda dengan orang-orang yang marah-marahnya efektif dan efisien. Golongan ini adalah orang-orang introvert kritis yang pemberani. Mereka seperti aliran sungai yang tenang di permukaan tapi deras di dasarnya. Orang-orang yang berpikir marah hanya perlu jika ada aksi dari lingkungan dan akhirnya memberikan reaksi seefektif dan seefisien mungkin. Mereka biasanya punya kecerdasan verbal tinggi. Sebab orang-orang ini marahnya mengeluarkan kata-kata nyelekit yang efeknya begitu dalam, menyayat hati mencabik-cabik sanubari. Intinya golongan ini lebih mementingkan kemampuan skill dalam merangkai kata daripada memanfaatkan kekuatan ampiltudo dari getaran yang dihasilkan pita suara. Bagi mereka tak perlu menggelegar tatapi menyentuh sisi sensitive orang yang dimarahinya itu lebih penting.

Well, tak perlulah kita setelah membaca note ini kemudian mereka-reka masuk golongan yang mana, tetapi yang perlu disadari jauhilah marah. Tidak bagus marah itu, menurut penelitian kesehatan, marah bisa meningkatkan resiko penyakit jantung dan kanker. Di islam pun Rasulullah pernah mewasiatkan pada sahabatnya agar menahan amarah. Allah swt pun sangat menyukai orang yang bisa menahan amarah. So, pilih yang mana, menjadi pemarah atau pemaaf? Wallahu’alam

 

 

About arfanart

asik,bawel,ngeselin,agak pelit

Posted on October 11, 2012, in Tugas teori organisasi umum. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: